Dalam Buku Interaksi Agama dan Filsafat al-Farabi

Interaksi Agama dan FilsafatDalam buku Interaksi Agama dan Filsafat, Dr. A. Khudori Soleh, M.Ag. mengkaji beberapa masalah , yaitu: Apa Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Konsep Keilmuan Filsafat?, Bagaimana Cara Untuk Mendapatkan Pengetahuan? Dan Apa Ukuran Validitas Pengetahuan Menurut al-Faradi?. Adapun signifikasi yang dilihat dari ketiga aspek tersebuat adalah Aspek Material Kajian, Aspek Kebutuhan dan Aspek Ketokohan.

Al-Farabi sendiri mempunyai nama lengkap Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan bin Avzalagh al- Farabi, yang ladir  disebuah desa kecil Wasij distrik kota Fabari, provinsi Transoxiana, Turkestan , tahun 257 H/870 M yang bertepatan pada pemerintahan Abbasiyah kedua dan pada masa kekuasaan al-Mu’tashim yang menjadikan tentara turki sebagai pengawal pribadinya. Pada masa-masa berikutnya mereka menjadi wazir-wazir yang berleluasa dan tidak ada yang bisa menolak keinginannya. Al-Farabi merupakan sahabat dari para wazir yang membela ilmu filsafat, karena itulah al- Farabi masih bisa berdiskusi masalah filsat dialeppo ditengah-tengah perubahan politik atau pemikiran secara besar-besaran  di Baghdad. Al-Fabari meninggal pada bulan rajab 339 H/desember 950 M di Damaskus pada usia 80 tahun dan dimakamkan dipekuburan yang terletak diluar gerbang kecil. Dalam masa hidupnya al-Farabi  telah menulis sekitar 100 karya ilmah besar dan kecil dengan berbagai tema linguistik, logika, fisika, metafisika, politik astronomi, musik dan beberapa tulisan tentang sanggahan terhadap pandangan filosof tertentu.

Untuk sumber  pengetahuan dalam konsep epistemologi al-Farabi adalah intek aktif yang bertindak sebagai perantara antara tuhan dan manusia yang sekaligus digunakan untuk mempertemukan agama dan filsafat. Menurutnya, agama dan filsafat sama-sama berasal dari sumber yang satu yaitu intelek aktif, sehingga keduanya tidak mungkin bertentangan.

Pengetahuan dalam konsep epistemologi, al-Farabi diperoleh lewat dua tahapan pokok  yaitu  pembentukan teori atau konsepsi (tash awwur) dan penalaran logis. Diantara penalaran logis yang dikenal saat itu, sistem demonstrasi (burhani) dinilai yang paling valid dan unggul. Sarana yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengetahuan terdiri atas tiga  hal : indra eksternal, indra internal dan intelek. Al-Farabi menyebutkan lima macam Interaksi Agama dan Filsafat, yaitu daya indra internal dan menempatkan daya imajinasi diatas daya rasional serta difungsikan untuk berhubungan dengan intelek aktif.

 Dan untuk validitas pengetahuan sendiri diukur berdasarkan tiga hal, yaitu keunggulan premis, kesesuainnya dengan tujuan akhir dan kemungkinannya agar dapat direalisasikan. Tujuan akhir dalam keilmuan al-Farabi adalah kebahagian tertinggi yang dicapai  dengan mengaktualisasikan seluruh diri.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Interaksi Agama dan Filsafat

Kelebihan Buku

  • Menunjukan secara langsung penggalan-penggalan teks yang ada dalam buku asli dari karya al-Farabi.
  • Disediakan bagan-bagan atau grafik yang dapat membuat pembaca lebih mudah untuk memahaminya.
  • Dalam fotenote sendiri dijelaskan secara mendetail.
  • Setiap ada kata-kata berbahasa arab atau nama kitab, terdapat terjemahannya dan begitupun untuk kata-kata asing.
  • Menunjukan atau menyajikan beberapa pendapat yang mendukung atau yang menentang pendapat al-Farabi, yang dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi para pembaca.
  • Adanya penjelasan bahwa materi yang dibahas itu diambil dari kitab al-Farabi yang berjudul apa.
  • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami

Kekurangan Buku

  •  Adanya pembahasan yang dibahas diawal, tetapi kemudian di bab-bab selanjutnya pembahasan tersebut diuraikan kembali dengan pengertian yang agak berbeda dan itu membuat pembaca sedekit kebingungan dalam buku Interaksi Agama dan Filsafat.

Posted on 08/12/2013, in Manfaat Sayuran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: